Friday, 2 February 2018

DUNIA DAN BAHAYA MENCINTAI DUNIA

DUNIA DAN BAHAYA MENCINTAI DUNIA

Banyak orang tertipu oleh kehidupan dunia. Mereka terpana pada hijau manaunya dunia. Mereka terperdaya oleh indah dan nikmatnya dunia.
Mereka berjuang mati-matian untuk mendapatkan kenikmatan dunia. Hayalan mereka, keinginan mereka, ambisi mereka dan cita-cita mereka hanyalah kenikmatan dunia. Mereka seolah-olah menyangka bahwa hidup di dunia ini selamanya. Mereka lupa bahwa kenikmatan dunia ini akan berakhir.

Bagaimana Islam memandang kehidupan dunia?
Mari kita lihat bagaimana Alquran dan Sunnah memandang, manimbang atau menakar dunia dan kenikmatannya.

1. Dunia hanyalah senda gurau dan permainan belaka. Sementara akhirat, itulah kehidupan yang sebenarnya.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang  sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui. [Al-‘Ankabût/29: 64]

Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang hakiki, kehidupan yang sebenarnya, yaitu kehidupan yang terus menerus, tetap, dan kekal selamanya.

2. Kehidupan dunia ini dinamakan dunia karena rendah dan hina, karena dunya artinya paling rendah atau hina. Kehidupan dunia yaitu sesuatu yang sedikit dan kecil, kehidupan yang penuh dengan syahwat dan fitnah. Akhir dari dunia adalah kefanaan dan kemusnahan.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. [At-Taubah/9:38]

3. Dunia ini seperti setetes air yang melekat di jari, sedangkan akhirat seperti samudera yang sangat luas.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَاللهِ ، مَا الدُّنْيَا فِـي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَـجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هٰذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَ بِالسَّبَّابَةِ – فِـي الْيَمِّ ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِـعُ

Demi Allâh! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, -(perawi hadits ini yaitu)Yahya  memberikan isyarat dengan jari telunjuknya- lalu hendaklah dia melihat apa yang dibawa jarinya itu?[1]

Sungguh jika kita celupkan jari kita ke laut maka air yang terbawa oleh kita hanyalah sedikit jika dibandingkan dengan samudera yang begitu luas. Bagitulah perbandingan antara dunia dan akhirat.

4. Dunia ini dilaknat oleh Allâh Azza wa Jalla. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُوْنَةٌ مَلْعُوْنٌ مَا فِـيْهَا إِلَّا ذِكْرُ اللهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِـمٌ أَوْ مُـتَـعَلِّـمٌ
Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allâh, ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, atau orang yang mempelajari ilmu. (HR ???)
Artinya, apa saja yang melalaikan manusia dari ibadah kepada Allâh maka itu terlaknat.

5. Dunia ini lebih jelek daripada bangkai anak kambing yang cacat. Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu anhu :
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  مَرَّ بِالسُّوْقِ دَاخِلًا مِنْ بَعْضِ الْعَالِيَةِ وَالنَّاسُ كَنَفَتَهُ. فَمَرَّ بِجَدْيٍ أَسَكَّ مَيِّتٍ فَتَنَاوَلَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِهِ، ثُمَّ قَالَ: ))أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ (( فَقَالُوْا: مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قال:(( أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ )) قَالُوْا: وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ، لِأَنَّهُ أَسَكُّ. فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: (( فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ )).
Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati pasar sementara banyak orang berada di dekat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau berjalan melewati bangkai anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil. Sambil memegang telinganya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa diantara kalian yang berkenan membeli ini seharga satu dirham?” Orang-orang berkata, “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mau jika ini menjadi milik kalian?” Orang-orang berkata, “Demi Allâh, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena kedua telinganya kecil, apalagi ia telah mati?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ
Demi Allâh, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allâh daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.[ HR. Muslim, no. 2957]

6. Dunia bagi Allah, tidak berharga meskipun hanya seberat sayap nyamuk. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَوْ كَانَتِ الدُّنْـيَا تَعْدِلُ عِنْدَ اللهِ جَنَاحَ بَعُوْضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِرًا مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
Seandainya dunia di sisi Allâh sebanding dengan sayap nyamuk, maka Dia tidak memberi minum sedikit pun darinya kepada orang kafir[4]

----===000===----

Ada delapan hal yang dicintai manusia, Allah rinci dalam surat Attaubah ayat 24:

قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)

Ayat di atas menerangkan tentang orang yang mencintai dunia, yaitu keluarga, harta, bisnis hingga rumah tempat tinggalnya.
Ayat di atas menunjukkan ancaman bagi orang yang menjadikan delapan perkara duniawi tersebut lebih ia cintai daripada urusan agamanya.
Semoga kita bukan termasuk orang yang diancam dalam ayat ini.

Apa tanda seseorang cinta dunia?
Tandanya adalah gila harta, gila jabatan, gila kehormatan, gila ketenaran; hidup mewah dengan pakaian, makanan dan minuman; waktunya sibuk mengejar dunia; ia mengejar dunia lewat amalan akhirat; juga lalai dari ibadah.

Sungguh mencintai dunia adalah penyakit yang berbahaya. Inilah penyakit yang paling berbahaya. Lebih berbahaya dari segala macam jenis penyakit fisik.
Apa bahaya cinta dunia?
Pertama:
Ibnul Qayyim menyatakan dalam Hadi Al-Arwah (hlm. 48) bahwa kunci segala keburukan adalah cinta dunia dan panjang angan-angan.
Jadi jika seseorang lebih memilih kesenangan dunia, maka sesungguhnya dia sedang membuka pintu keburukan bagi hidupnya.

Kedua:
Orang yang cinta dunia berpotensi mengorbankan agamanya, bahkan menjual agamanya dan lebih memilih kekafiran.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang beriman pada waktu pagi lalu kafir di sore hari. Ada pula yang sore hari beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya demi (mendapatkan) sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim no. 118)

Ketiga:
Hati jadi lalai dari mengingat akhirat sehingga kurang dalam beramal shalih.
Dari Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى

“Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.)

Dalam surat Adz-Dzariyat juga disebutkan,

قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ (10) الَّذِينَ هُمْ فِي غَمْرَةٍ سَاهُونَ (11)
“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.” (QS. Adz-Dzariyat: 10-11)

Yang dimaksud “alladzina hum fii ghomroh” adalah mereka buta dan jahil akan perkara akhirat. “Saahun” berarti lalai. As-sahwu itu berarti lalai dari sesuatu dan hati tidak memperhatikannya. Sebagaimana hal ini ditafsirkan dalam Zaad Al-Masir karya Ibnul Jauzi.

Keempat:
Juga karena cinta dunia akan menjadikan seseorang kurang mendapatkan kelezatan ketika berdzikir.

Di dalam Majmu’ah Al-Fatawa (9:312), Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan perkataaan ulama Syam yaitu Sulaiman Al-Khawwash, “Dzikir bagi hati kedudukannya seperti makanan untuk badan. Ketika badan sakit, tentu seseorang sulit merasakan lezatnya makanan. Demikian pula untuk hati tidak bisa merasakan nikmatnya dzikir ketika seseorang terlalu cinta dunia.”

Terakhir, kelima:
Orang yang gila dunia urusannya akan jadi sulit. Beda kalau seseorang mengutamakan akhirat.  Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
“Barangsiapa yang ambisinya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Tirmidzi, no. 2465. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

Lalu bagaimana agar tidak gila dunia?
1. Harus yakin dunia itu hina dan yakin dunia itu akan fana dibanding akhirat yang kekal abadi.
2. Qana’ah (nerimo) dengan yang sedikit, apa saja yang Allah beri.
3. Mendahulukan ridha Allah daripada hawa nafsu, keluarga dan kepentingan dunia.
4. Bersabar dan mengharapkan kenikmatan yang begitu banyak di surga.

Bagaimana seharusnya kita menyikapi kenikmatan dunia

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim, no. 2392)
Dikatakan seperti penjara karena orang mukmin terhalang untuk melakukan syahwat yang diharamkan. Tidak bebas melakukan yang enak-enak. Kehidupannya dibatasi oleh aturan demi aturan. Sedangkan keadaan orang-orang kafir adalah sebaliknya, mereka merasa bebas melakukan apa saja. Halal haram mereka hantam.  Bebas seakan-akan mereka berada di surga.

Maka seyogyanyalah kita menjadikan dunia seperti penjara bagi kita. Dimana setiap langkah dan gerak kita dibatasi oleh syariat Allah SWT. Kita tidak merasa bebas melakukan apa yang kita suka sebagai manusia. Namun di dalam ketidak bebasan itulah indahnya kehidupan. Karena ketidak bebasan hidup itu artinya adalah hidup dalam syariat dan sesuai dengan keinginan Allah dari kita. Maka itulah kehidupan yang paling indah. Tiada lagi yang lebih indah selain hidup dalam ketaatan dan ketakwaan. Di dunia saja kita akan merasakan kebahagiaan jika kita selalu dalam ketaatan. Apalagi di akhirat nanti. Maka kebahagiaan yang akan kita dapatkan jauh lebih nikmat dan indah. Itulah kehidupan di syorganya Allah SWT. Itulah kehidupan yang abadi. Dan itulah keindahan dan kenikmatan yang abadi dan sejati.

جعلنا وإياكم من أهل جنات النعيم.







Wednesday, 31 January 2018

27 PERANG DI ZAMAN NABI MUHAMMAD SAW

1. Perang Waddan atau Perang al-Abwa.
2. Perang Buwath
3. Perang Safwan atau Perang Badar I
4. Perang Usyairah
5. Perang Badar II
6. Perang Bani Qainuqa’
7. Ketujuh: Perang Bani Sulaim  
8. Perang as-Suwaiq
9. Perang Dzi Amr atau Perang Ghathafan
10. Perang Uhud
11. Perang Hamr-aul Asad
12. Perang Bani Nadhir
13. Perang Badar III
14. Perang Dumatul Jandal
15. Perang Bani Musthaliq
16. Perang Ahzab / Khandaq
17. Perang Bani Quraizhah
18. Perang Bani Lihyan
19. Perang Dzi Qard atau al-Ghabah
20. Perang Hudaibiyah
21. Perang Khaibar
22. Perang Wadi al-Qura
23. Perang Dzatu ar-Riqaq
24. Penaklukkan Kota Mekah (Fathu Makkah)
25. Perang Hunain atau Perang Hawazin
26. Perang Thaif

27. Perang Tabuk

Monday, 15 January 2018

10 Karakter Muslim Sejati




10 Karakter Muslim Sejati
1. Salimul Aqidah (Good Faith) : Luruh aqidahnya
2. Shahihul Ibadah (Right Devotion) : Benar Ibadahnya
3. Matinul Khuluq (Strong Character) : Mulia akhlaknya
4. Qowiyyul Jismi (Physical Power) : Sehat dan kuat fisiknya
5. Mutsaqqoful Fikri (Intelligence in Thinking) : Berwawasan luas
6. Mujahadatun Linafsihi (Continence/ Self restraint towards Nafs) : Mampu melawan hawa nafsunya
7. Harishun ‘ala Waqtihi (Good time management) : Sangat menjaga waktunya
8. Munazhzhamun fi Syu’unihi (Well Organized) : Teratur urusannya
9. Qodirun ‘alal Kasbi (Independent) : Mandiri secara ekonomi

10. Naafi’un Lighoirihi (Giving Contribution) : Bermanfaat bagi orang lain

Wednesday, 3 January 2018

التَّعَارُف PERKENALAN

التَّعَارُف
PERKENALAN
الحِوَار الأَوّل  : Percakapan Pertama
العربية
Indonesia
أ   : مَا اسْمُكَ؟

ب : اسْمِي عبد الله

أ   : مِنْ أَيْنَ انْتَ؟

ب : أنا مِنْ إِنْدُونِيسِيَا

أ   : أيْنَ تَسْكُنُ؟

ب : أسكُن فِي قَطَر

أ   : مَاذَا تَعْمَلُ؟

ب : أنا مُهَنْدِسٌ

أ   : أَيْن تَعْمَلُ؟

ب : أَعْمَلُ في شَرِكَة قطر لِلْبِتْرُول

أ   : مَاذَا تَعْمَلُ؟

ب : أنا طَالِبٌ

أ   : أين تَدْرُسُ؟

ب :  أَدْرُسُ فِي مَدْرَسَة قطرَ الدَّوْلِيَّةِ

Saturday, 24 June 2017

Ingatlah Kematian Selalu Mengintaimu

Di dunia ini ada sesuatu hal yang paling pasti adanya. Yang kepastiannya disepakati oleh semua orang. Siapapun dia. Apapun agamanya. Bahkan atheis yang tidak percaya adanya tuhanpun meyakini adanya sesuatu hal ini. Apakah sesuatu hal tersebut? Itulah kematian. Iya, semua orang meyakini adanya kematian.
Kematian adalah suatu yang pasti datang. Setiap yang bernyawa pasti akan menemui ajalnya.
Allah SWT telah berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ - 3:185
Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya akan disempurnakan pahalamu di hari kiamat kelak.  Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukan ke dalam syurga maka sungguh ia telah beruntung. Sungguh kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Imran : 185)
**************
Kematian tidak melihat siapa kita. Tidak memandang status social kita. Yang miskin akan mati dan yang kaya juga akan mati.  Rakyat biasa juga akan mati dan pejabat akan mati.

Kematian juga tidak pandang usia. Yang tua akan mati. Yang mudapun jika sudah datang ajalnya juga pasti akan mati. Betapa banyak bayi mati. Betapa remaja yang masih sangat belia dan sehat mati. Sementara banyak juga orang yang sakit-sakitan mati di usia tua. Karena memang kematian adalah rahasia Allah SWT.
Allah SWT berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُون (الأعراف : 34 )
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.
Tidak seorangpun tau kapan, dimana dan bagaimana dia akan mati. Apakah di rumah ataukah di jalanan. Apakah dia mati ketika sedang ibadah atau maksiat. Apakah dalam keadaan sakit atau dalam keadaan sehat dan segar bugar. Jika ajal telah datang maka tidak ada yang bisa menghalanginya.
Jadi tidak seorangpun tahu kapan, dimana dan bagaimana dia akan menemui ajalnya. Karena memang kematian adalah misteri Ilahi, hanya Allah SWT yang tahu. 

Allah SWT berfirman:
..... وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ......
Dan tidak seorangpun tau apa yang akan dia lakukan esok hari. Dan tidak seorangpun tau di bumi mana dia akan mati

Oleh Karena itu, janganlah kita terpedaya oleh kesibukan dunia. Jangan sampai kesenangan dan kesibukan urusan dunia melalaikan kita. Karena kematian datang tiba-tiba.

Karena kita tidak tau kapan, dimana dan bagaimana kita akan mati, maka seharusnyalah kita selalu berada dalam ketaatan. Kita harus selalu berada di jalan yang diridhoi Allah SWT. Jangan sampai Allah mencabut nyawa kita ketika sedang melakukan maksiat. Nauzu billah min zalik.
Apalagi dalam sebuah riwayat dikatakan
يموت المرؤ على ما عاش عليه
Cara mati seseorang ditentukan kebiasaan hidupnya
Jika seseorang ketika hidupnya suka beribadah maka ada kecendungan dia akan diwafatkan dalam keadaan sedang beribadah. Walaupun ini tidak pasti. Sementara jika dia ketika hidupnya suka bermaksiat maka ada kecendrungan juga dia akan mati dalam keadaan  sedang bermaksiat. Waliyadzu billah.
Alangkah indahnya dan beruntungnya jika seorang hamba mati ketika sedang beribadah, sedang shalat, puasa, membaca quran dan amal kebaikan lainnya. Dan Alangkah buruknya nasib seseorang yang mati dalam keadaan sedang bermaksiat.
Semoga Allah tutup usia kita dengan husnul khatimah dan dijauhkan dari suúl khatimah.
***********
Demikianlah hakikat kematian.
Pertanyaan yang paling penting kemudian adalah apakah kita sudah siap menghadapi kematian? Apa yang sudah kita siapkan untuk mengahadapi kematian? Amal apakah yang sudah kita lakukan sebagai bekal hidup kita setelah mati? Inilah pertanyaan yang harus selalu kita tanyakan pada diri kita masing-masing.
Rasulullah menuturkan:

الكيس من دان لنفسه وعمل لما بعد الموت ....
(هذا حديث صحيح على شرط البخاري ولم يخرجاه)
“Orang yang cerdas ialah orang yang dapat menundukkan jiwanya (agar selalu taat kepada Allah, pent) dan ia senantiasa beramal untuk hari sesudah kematiannya.”(Almustadrak Alashshohihain dalam Kitabul Iman)
Jadi orang yang paling hebat dan cerdas bukanlah orang yang paling tinggi pendidikannya dan paling banyak gelar akademiknya. Tapi yang paling hebat dan cerdas adalah orang selalu mempersiapkan diri untuk hidup setelah mati.
Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi kematian?
Setidaknya Ada 3 hal penting yang perlu kita lakukan sebagai persiapan kita untuk menghadapi kematian:
1-       Taubat
Amal yang pertama yang harus kita lakukan untuk mempersiapkan diri sebelum ajal menjemput adalah bertaubat kepada Allah SWT.
Bertaubatlah kita sebelum ajal datang. Bertaubat dari semua dosa dan kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu. Baik dosa besar maupun dosa kecil.
Sungguh tidak ada manusia yang sempurna. Tidak ada manusia yang tidak berdosa. Tidak ada yang ma’sum selain Rasulullah SAW. Semua orang pasti pernah berdosa. Tapi sebaik-baik orang berdosa adalah orang banyak bertaubat.
Rasulullah bersabda:
كل بنى آدم خطاء ، وخير الخطائين التوابون
“Setiap manusia banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang banyak bertaubat”
Marilah kita sama-sama bertaubat kepada Allah SWT. Bertaubat dengan sebenar-benarnya. Menyesali semua dosa yang penah kita lakukan, dengan penyesalan yang mendalam. Kemudian kita bertekad dan berjanji untuk tidak mengulanginya kembali.
Namun jika kita jatuh lagi pada perbuatan maksiat itu, maka kita harus bertaubat lagi. Jika jatuh lagi, kita bertaubat lagi. Karena Allah adalah Attawwab : Yang maha menerima taubat hambaNya. Allah adalah AlGhafur : Maha pengampun. 
Kita harus bertaubat setiap hari sepanjang hidup kita. Sembari mengatakan astaghfirullah… astaghfirullah sebanyak-banyaknya.
Kita mesti meneladani Rasulullah SAW. Sesungguhnya Rasulullah bertaubat setiap hari. Beliau beristighfar tidak kurang dari 70 kali atau 100 kali setiap hari. Padahal kita tau bahwa beliau adalah manusia yang ma’sum yang terjaga dari dosa dan maksiat.
2-       Beramal shaleh.
Hal yang kedua yang harus kita lakukan adalah beramal shaleh.
Amal shalehlah bekal dan modal yang sesungguhnya untuk kehidupan setelah mati.
Ketika kita sudah meninggal tidak ada yang akan menemani kita nanti di alam kubur. Harta yang kita kumpulkan di dunia akan ditinggalkan. Keluarga yang kita cintai yang kita berjuang habis-habisan untuk membahagiakan mereka juka tidak akan mau menemani kita di dalam kubur. Jabatan yang kita banggakan di dunia tidak ada gunanya di akhirat nanti. Semuanya akan kita tinggalkan. Yang akan mengikuti kita kelak hanyalah satu. Itulah amal shaleh.
Ada sebuah kisah nyata yang pernah diceritakan oleh seorang dai.
Diceritakan ada seorang yang kaya raya. Memiliki harta berlimpah. Dia sudah lanjut usia. Menjelang wafatnya dia sakit. Pada waktu sakit itu dia mengumpulkan anak-anaknya. Dia katakan: “Wahai anak-anakku, sebelum meninggal ayah ingin berwasiat. Ada dua wasiat dari ayah. Ayah harap kalian mau melaksanakannya nanti jika ayah meninggal. 
Anak-anaknya bertanya: "apa gerangan wasiat itu wahai ayahanda?"
Ayahnya menjawab: "Wasiat yang pertama wahai anakku, ayah punya kaos kaki kesayangan. Walaupun sudah lama tapi ayah sangat suka dengan kaos kaki ini. ayah berwasiat jika nanti ayah mati maka pakaikan kaos kaki ini di kaki ayah tepat ketika ayah akan dikafankan. 
"Adapun wasiat kedua". kata sang ayah "di dalam lemari itu ada surat untuk kalian. Jika nanti ayah mati bacalah surat itu tepat ketika ayah hendak dikafankan".  Seminggu setelah itu, laki-laki tua yang kaya raya itupun meninggal. Ketika hendak dikafankan anak-anaknya mengatakan kepada Ustadz yang mengurusi jenazah laki-laki tersebut.
“Wahai Ustadz …” kata anaknya. “sebelum meninggal ayah kami berwasiat untuk dipakaikan kaos kaki ini padanya sebelum dikafankan”.
Ustadz tersebut menjawab: “jenazah tidak boleh dipakaikan apapun selain dari kain kafan ini”. Mereka ngotot agar wasiat itu dilaksanakan. Tapi ustadz tersebut tetap tidak mau. Karena memang hal itu tidak dibolehkan. Dia berkata: “jika kalian ngotot silahkan kalian cari ustadz lain untuk mengurusi jenazah ayah kalian”.
Akhirnya mereka mengikuti apa yang dikatakan oleh ustadz tersebut. Lalu ustadz itupun bertanya: “apakah ada wasiat lain dari ayah kalian?” mereka menjawab: “ada ustadz”.
Lalu mereka mengeluarkan secarik kertas dari sebuah lemari. Apakah isi wasiat tersebut?
Isi wasiat tersebut adalah: “wahai anak-anakku, kalian tahu bahwa ayah kaya raya. Ayah punya banyak harta. Namun coba kalian lihat. Semua harta yang ayah miliki tidak berguna bagi ayah. Semuanya ayah tinggalkan. Bahkan kaos kaki yang sudah lama dan sudah bolong-bolong itupun tidak bisa menemani ayah di dalam kubur”.
Hadirin rohimakumullah…
Lihatlah, bagaimana banyaknya harta seseorang tidak bermanfaat baginya ketika dia sudah mati.
Sesungguhnya yang bermanfaat bagi seseorang ketika sudah mati adalah amalan shaleh ketika hidup di dunia.
Harta yang ditinggalkan akan menjadi bermanfaat bagi si mayit jika harta tersebut disedekahkan oleh ahli warisnya dengan niat pahalanya dihadiahkan untuk si mayit tersebut.
3-       Banyak Mengingat Mati
Hal ketiga yang mesti kita lakukan adalah banyak-banyak mengingat kematian.
Rasulullah SAW bersabda:
أكثروا ذكر هاذم اللذات
Perbanyaklah mengingat pemotong kelezatan (HR Attirmidzi, Kitab Azzuhd)
Apakah yang dimaksud dengan pemotong kenikmatan?  Itulah kematian.
Kita diperintahkan untuk mengingat kematian, agar apa?
Addaqqoq pernah berkata:
من أكثر من ذكر الموتSiapa yang banyak mengingat mati
أكرم بثلاثة أشياء: Dia akan diberikan 3 hal
تعجيل التوبة، segera bertaubat
وقناعة القلب، rasa cukup atas apa yang Allah berikan. Tidak tamak dan tidak melakukan hal-hal yang haram untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
 ونشاط العبادة، rajin beribadah. Kenapa? Karena dia merasa kematian selalu mengintainya.
ومن نسي الموت dan siapa yang lupa bahwa dia akan mati
عوقب بثلاثة أشياء: dia akan ditimpakan 3 hal
تسويف التوبة، suka menunda-nunda taubat
وترك الرضى بالكفاف، selalu merasa tidak cukup atas apa yang dia miliki

والتكاسل في العبادة dan malas beribadah .

Wednesday, 14 June 2017

Ayat-Ayat dan Hadits-Hadits Yang Berhubungan dengan Kematian

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al ‘Ankabut : 57) 
‘Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. ‘  (QS. Al Munaafiquun : 11)
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al Jumu’ah : 8

Ungkapan Ali bin Abi Thalib,
‘Sesungguhnya kematian terus mendekati kita, dan dunia terus meninggalkan kita. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah beramal dan tidak ada hisab, dan esok adalah hisab dan tidak ada lagi beramal.’

Doa-Doa untuk Mayit

أعُوْذُبِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدَ الشَّاكِرِيْنَ، حَمْدَالنَّاعِمِيْنَ، حَمْدًايُوَافِيْ نِعَمَه وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَارَبَّنَالَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اَللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِى سَيِّدِنَا مُحَمَّد. 
 اللهُمَّ تَقَبَّلْ وَاَوْصِلْ ثَوَابَ مَاقَرَأْنَاهُ مِنَ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَمَا هَلَّلْنَا هَدِيَّةً وَاصِلَةً وَرَحْمَةً نَازِلَةً وَبَرَكَةً شَامِلَةً اِلَى ...... ثُمَّ اِلى جَمِيْعِ اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ اْلاَرْضِ اِلَى مَغَارِبِهَا برحمتك ياأرحم الراحمين.

اللهُمَّ اغْفِرْلَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُم 
اَللهُمَّ اَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ عَلى اَهْلِ الْقُبُوْرِ مِنْ اَهْلِ لَآاِلهَ اِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ
رَبَّنَاتَقَبَّلْ مِنَّا اِنَّكَ اَنْتَ السََّمِيْعُ الْعَلِيْمْ وَتُبْ عَليْنَا اِنَّكَ اَنْتَ تَوَّبُ الرَّحِيمِ
اللّهُمََّ اِنَّانَسْأَ لُكَ سَلاَمَة ً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَة ً فِى الْجَسََدِ وَزِيَادَة ً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكََة ً فِى الرِِّزْقِ 
وَتَوْبَة ً قَبْلَ الْمَوْ تِ وَرَحْمَة ًعِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَة ً بَعْدَ الْمَوْ تِ
اللّهُمََّ هَوِّنْ عَليْنَا فِى سَكَرَاتٍِ الْمَوْتِ وَالنََّجَاةً مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَالْحِسَابِ

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ 



Saturday, 4 March 2017

Astaghfiruka Ya Robbi, Ya Ghafuur

Ya Ilahi, Ya Robbi...
Ya Ghafuur....
Ya Allah yang Maha Pengampun,
Sungguh diri ini bergelimang dosa. Sering jatuh pada dosa dan kesalahan.
Sementara Engkau Maha Pengampun...
Ampunilah akulah atas kesalahan dan maksiat yang telah aku lakukan.
Hapuslah semua dosa-dosaku. Sungguh rahmatMu sangat luas.

Ya Ghafur, ampunilah jiwa ini yang selalu lalai dari mengingatmu. Diri ini sering sibuk dengan urusan-urusan dunia hingga lupa padaMu. Padahal nikmatMu tak henti-hentinya kunikmati.
Seringkali aku lalai dari menyebut namaMu Yang Agung.
Ibadah shalatku seringkali hanyalah aktifitas rutin yang jauh dari khusyu'.
Tilawah-tilawahku selalu hanya mengalir di lidah tanpa penghayatan dan tadabbur.

Ya Ghaffaar....
Ampunilah aku yang tidak bisa menjaga mata ini dari hal-hal yang mengundang murkaMu
Ampuni aku yang tidak bisa menjaga lidah ini dari kata-kata yang tidak Kau ridhoi.
Ampuni aku yang tidak bisa menjaga telinga ini, hingga sering bermaksiat kepadaMu dengan mendengarkan sesuatu yang Kau benci.
Ampuni aku ya Ilahi, atas hati ini yang dijangkiti penyaki-penyakit hati, iri hati, dengki, sombong, angkuh, ria dan penyakit-penyakit hati lainnya.

Ya Ghaafira Adzzunub, ampunilah aku atas semua dosa-dosaku, yang kecil maupun yang besar, yang disengaja maupun yang tidak sengaja dan yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui.

Dosaku segunung dan sehamparan laut. Namun aku percaya. Ampunan dan rahmatMu Maha Luas.