Tuesday, 27 October 2020

Dhomir – Dhomaair ضَمِير – ضمائِر (kata ganti orang)

Dhomir – Dhomaair

ضَمِير – ضمائِر  (kata ganti orang)

 

جَمْع

Jama’

مُثَنَّى

Dua

مُفْرَد

Tunggal

 

 

هُمْ

Mereka (jamak)

هُمَا

Mereka (berdua)

هُوَ

dia (laki-laki)

مذكر

Laki-laki

 

غائب

Orang ke 3

هُنَّ

Mereka (jamak)

هُمَا

Mereka (berdua)

هِيَ

Dia (perempuan)

مؤنث

Perempuan

أَنْتُمْ

Kalian (lk)

أنْتُمَا

Kalian (ber2)

أَنْتَ

Engkau (lk)

مذكر

Laki-laki

مخاطب

Orang ke 2

أَنْتُنَّ

Kalian (pr)

أنْتُمَا

Kalian (ber2)

أَنْتِ

Engkau (pr)

مؤنث

Perempuan

نَحْنُ

Kita / kami

أنا

Aku / saya

مذكر ومؤنث

مُتَكَلِّم

Orang pertama

 

Latihan 1

جَمْع

Jama’

مُثَنَّى

Dua

مُفْرَد

Tunggal

هُمْ

Mereka (jamak)


هُوَ

dia (laki-laki)


هُمَا

Mereka (berdua)


أَنْتُمْ

Kalian (lk)

أنْتُمَا

Kalian (ber2)




أَنْتِ

Engkau (pr)

نَحْنُ

Kita / kami



Latihan 2

جَمْع

Jama’

مُثَنَّى

Dua

مُفْرَد

Tunggal


هُمَا

Mereka (berdua)


هُنَّ

Mereka (jamak)


هِيَ

Dia (perempuan)


أنْتُمَا

Kalian (ber2)


أَنْتُنَّ

Kalian (pr)


أَنْتِ

Engkau (pr)


أنا

Aku / saya


Friday, 23 October 2020

Beberapa Kosa-Kata dan Percakapan Bahasa Arab Yang Digunakan dalam Kelas



حَضَرَ :  telah Hadir

حَضَرَتْ عائشة : Aisyah sudah hadir

هَلْ : apakah

هل حَضَرَ محمد؟ : apakah Muhammad sudah hadir?

نَعَم : إيا

خَلاص : sudah

افكه كامو سوده ماكن؟

لَمَّا : belum

اِنتَهَى : done

اِنتَهَيْتَ / ـتِ ؟ : are u done?

اِنتَهَيْتُ : I am done

اِنتَهَى الوَقْت : waktu sudah habis

شَغِّلْ!/ شَغِّلِيْ!: aktifkan!

شَغِّلْ الكامرا!

مَوْجُودٌ/موجودة : ada

هل عائِشَة موجودة؟

نعم هِيَ موجودة

وَاصِلْ ! : teruskan!

أُرِيْدُ .... : I want….

أريد أَنْ أَشْرَب : I want to drink      


Latihan membaca : Bacalah kata-kata di bawah ini!

انتهى – حضر حضرَت حضرْتَ تِ تُ – وقت – شغل! – موجود

Tuesday, 13 October 2020

أُحِبُّ الْفَوَاكِه

الفَاكِهَة - الفَواكِه
أُحِبُّ الفواكه
الفواكه مُفَيْدَةٌ لِلْجِسْم
آكُلُ الْفواكه كُلَّ يَوْم

الرُّمان
أُحِبُّ الرُّمَّان
الرمان مُفَيْدٌ لِلْجِسْم
آكُلُ الرمان كُلَّ يَوْم

الْعِنَب
أُحِبُّ الْعِنَب
الرمان مُفَيْدٌ لِلْجِسْم
آكُلُ الْعِنَب كُلَّ يَوْم

Tuesday, 6 October 2020

Kata Sifat Penyakit dalam Bahasa Arab ‎أسماء ‏الصفات ‏المرضي

صفات مرضية على وزن أفعل تبدأ

بحرف الألف في اللغة العربية على وزن أَفْعَلُ :-

أبرص : مُصَاب بمرض البرص .

أبقع : فيه سواد وبياض .

أبكم : أخرس .

أبله : أحمق ضعيف العقل .

أجدع : مقطوع الأنف .

أجرب : مُصَاب بالجرب .

أجرد : لاشعر على جسده .

أحدب : خرج ظهره ودخل صدره وبطنه .

أحمق : لايُحْسِن عمله .

أحول : من كان بعينه حول .

أخرس : أبكم .

أخطل : طويل الأذنين مع استرخائها .

أخفش : من يُبصِر بالليل دون النهار .

أصم : من إنسدت أذنه وثَقُل َ سمعه أو ذَهب َ .

أصهب : من كان في شعره حُمرَة أو شُقرة .

أطرش : أصم ذهب َ سمعه .

أعرج : من كان في رجله إصابة أو عِلة .

أعسر : الذي يعمل بشماله .

أعشى : من أبصر بالنهار وساء بصره بالليل .

أعمش : من ضعُف َ بَصَرُ عينيه مع سيلان دمعهما في أكثر الأوقات .

أعمى : من ذهب َ بصره .

أعور : من ذهب َ بَصر إحدى عينيه .

أفطس : من انخفضت قصبة أنفه .

أقرع : من ذهب َ شعر ُ رأسه من عِلة .

أكتع : من انقبضت أصابعه ورجعت إلى كفه .

أكرش : ضخم البطن .

أكفس : أعوج الرجل .

أكمه : أعمى ( مولود أعمى ) .

ألثع : من يقلب السين ثاء ً أو الراء غينا ً .

أدرد : من ذهبت أسنانه .

أرقط : من به بياض يخالطه نقط سوداء أو العكس .

أزرب : كثير الشَعر .

أزغب : له شعر قصير .

أزمع : زائد الأصابع ( ست أصابع ) .

أشرم : مشقوق الشفة ومقطوع أرنبة الأنف .

أشعث : مغبر الشعر متلبده .

أشقر : من كان لونه بين الذهبي والأحمر .

أشل : من كان بيده أو بأحد أعضائه شلل .

أشهب : من كان لونه أبيضا ً غلب َ عليه السواد .

أشيب : المُبيَّض شعر الرأس .

أصك : مضطرب الركبتين عند المشي .

أصلع : مَنْ سَقط َ شَعْر ُ رأسه 

Thursday, 24 September 2020

Riba: Hukum dan Bahayanya

Istilah riba sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat di Indonesia, terutama semenjak sudah semakin banyaknya masyarakat yang belajar dan memahami mengenai Agama Islam secara lebih mendalam. Pada umumnya istilah riba sering kita dengar pada bunga yang diberikan dalam kegiatan peminjaman uang atau pada bank konvensional. 

ARTI RIBA
Sebelum membahas mengenai jenis riba, kita harus mengetahui pengertian dari riba itu sendiri. Riba menurut bahasa berarti ziyadah (tambahan) tau nama’ (bekembang). Menurut Yusuf al-Qardawi, setiap pinjaman yang mensyaratkan didalamnya tambahan adalah riba.


Menurut Qadi Abu Bakar ibnu Al Arabi dalam bukunya “Ahkamul Quran” menyebutkan defenisi riba adalah setiap kelebihan antara nilai barang yang diberikan dengan nilai barang yang diterimana. Dan jika dibuat lebih sederhana, riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi maupun pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan ajaran islam.

Pada dasarnya islam melarang seorang muslim untuk memakan riba, hal ini seperti yang tercantum di dalam surat Al-Baqarah ayat 278 yang artinya:

“Hai orang –orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut), jika kamu orang yang beriman” (Q.S. Al Baqarah: 278) 

Allah melarang seseorang memakan riba dikarenakan akan diberikannya siksaan yang amat pedih bagi orang-orang yang memakan riba. Hal ini sudah disampaikan oleh Firman Allah dalam Al-Quran salah satunya di dalam surat An-Nisa ayat 161, yaitu:

“Dan disebabkan karena mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami menyediakan untuk orang-orang kafir diantara mereka itu siksa yang amat pedih” (Q.S An-Nisa: 161)

Berdasarkan beberapa sumber yang saya baca, secara garis besar riba dikelompokkan menjadi dua yaitu riba hutang piutang dan riba jual beli, dimana masing-masing kelompok memiliki pembagian jenis ribanya tersendiri.

JENIS RIBA HUTANG PIUTANG (RIBA AD-DUYUN)

1. Riba Jahiliyah
RIba ini terdapat pada hutang yang dibayar melebihi dari pokoknya, hal ini dikarenakan si peminjam tidak mampu untuk membayarnya pada waktu yang telah ditetapkan. Adapun penambahan hutang yang dibayarkan akan semakin bertambah besar bersamaan dengan semakin mundurnya waktu pelunasan hutang. Sistem ini dikenal juga dengan istilah riba mudha’afah (melipatgandakan uang).

Contohnya: Fulan meminjam uang dengan Fulana sebesar Rp 500.000  dengan tempo dua bulan. Saat  waktunya tiba Fulana meminta uang yang dipinjam, akan tetapi Fulan berkata bahwa ia belum dapat membayar uang yang dipinjam dan meminta waktu tambahan satu bulan. Fulana menyetujui dengan memberikan syarat bahwa uang yang harus dibayar menjadi Rp 560.000. Penambahan jumlah tersebut termasuk kategori Riba Jahiliyah.

2. Riba Qardh
Riba jenis ini memiliki pengertian adanya manfaat yang disyaratkan oleh pemilik dana kepada yang berhutang.

Contohnya: Fulan ingin meminjam uang kepada Fulana sebesar Rp 500.000.  Fulana menyetujui namun dengan syarat ketika Fulan hendak mengembalikan uang, maka uang yang harus dikembalikan Fulan adalah sebesar Rp 550.000. Kelebihan Rp 50.000 tersebut termasuk kedalam Riba Qardh.

JENIS RIBA JUAL BELI (RIBA AL-BUYU’)

1. Riba Nasi’ah
Riba jenis ini memiliki pengertian yaitu adanya penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan barang ribawi lainnya. Riba ini muncul dikarenakan adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian.

Contohnya: Fulana membeli dan mengambil emas seberat 3 gram pada bulan ini, akan tetapi uangnya diserahkan pada bulan depan. Hal ini termasuk kedalam riba Nasi’ah, hal ini dikarenakan harga emas pada bulan ini belum tentu dan pada umumnya akan berubah di bulan depan.

2. Riba Fadhl
Riba Fadhl memiliki pengertian apabila terjadi pertukaran antarbarang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan termasuk kedalam barang ribawi.

Contoh: Seseorang menukarkan 10 gram emas  (jenis 916) dengan 12 gram emas (jenis 750). Pertukaran seperti ini tidak diperbolehkan, walaupun jenis 750 lebih berat dibandingkan jenis 916. Hal ini dikarenakan sebaiknya dalam pertukaran keduanya memiliki berat timbangan dan jenis yang sama.

Bahaya Riba Dalam Kehidupan

Mengingat begitu tegas bagaimana Allah telah mengharamkan riba, itu karena ada beberapa bahaya di dalamnya, di antaranya:

1. Hilangnya keberkahan pada harta
Allah berfirman:
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ
Artinya: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah.” (QS Al-Baqarah [2]: 276).

2. Orang yang berinteraksi dengan riba akan dibangkitkan oleh Allah pada hari kiamat kelak dalam keadaan seperti orang gila.

Firman Allah:
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ…..
Artinya: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila…..” (QS Al-Baqarah [2]: 275).

3. Orang yang berinteraksi dengan riba akan disiksa oleh Allah.

Diriwayatkan dari Samurah bin Jundub Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, menceritakan tentang siksaan Allah kepada para pemakan riba, bahwa “Ia akan berenang di sungai darah, sedangkan di tepi sungai ada seseorang (malaikat) yang di hadapannya terdapat bebatuan, setiap kali orang yang berenang dalam sungai darah hendak keluar darinya, lelaki yang berada di pinggir sungai tersebut segera melemparkan bebatuan ke dalam mulut orang tersebut, sehingga ia terdorong kembali ke tengah sungai, dan demikian itu seterusnya.”. (HR Bukhari).

4. Allah tidak akan menerima shadaqah, infaq dan zakat yang dikeluarkan dari harta riba.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu maha baik dan tidak akan menerima sesuatu kecuali yang baik.” (HR Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

5. Do’a pemakan riba tidak akan dikabulkan Allah.

Di dalam hadits shahih, Rasullullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan:
ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ».
Artinya: Bahwa ada seseorang yang melakukan safar (bepergian jauh), kemudian menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku!” Akan tetapi makanan dan minumannya berasal dari yang haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan oleh barang yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan (oleh Allah)?”. (HR Muslim).

6. Memakan harta riba menyebabkan hati menjadi keras dan berkarat.

Allah berfirman di dalam ayat:
كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Artinya: “Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS Al-Muthaffifin [83]: 14).

7. Badan yang tumbuh dari harta haram berhak disentuh api neraka.

Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Ujrah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
Artinya: “Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram, akan berhak dibakar dalam api neraka.” (HR At-Tirmidzi).

8. Orang yang berinteraksi dengan riba dilaknat Allah dan Rasul-Nya.

Hal ini berdasarkan hadits:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ : لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ
Artinya: Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksinya dan penulisnya.” Beliau melanjutkan, “Mereka semua sama (kedudukannya dalam hal dosa)”. (HR Muslim).


9. Memakan riba lebih buruk dosanya daripada zina.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً
Artinya: “Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui bahwa yang didalamnya adalah hasil riba, dosanya itu lebih besar daripada melakukan perbuatan zina sebanyak tiga puluh enam kali.” (HR Ahmad dan Al-Baihaqi).

10. Paling ringan dosa riba seperti menzinai ibu kandung sendiri.

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ
Artinya: “Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri.” (HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

Penutup
Mengingat begitu dahsyatnya bahaya riba bagi kehiudpan seorang Muslim, baik di dunia apalagi di akhirat, maka sudah seharusnya kita berupaya meninggalkannya semaksimal mungkin

Akhlak Mulia Dan Pengaruhnya Terhadap Diterimanya Amalan


Setiap orang beriman harus selalu memperhatikan akhlaq pribadinya. Jangan sampai sikapnya, perkataan dan perbuatannya menyakiti orang lain. 

Sungguh Rasulullah diutus oleh Allah untuk menyempurnakan akhlak.

Kenapa mukmin harus memperhatikan akhlaknya? Ternyata Islam menposisikan akhlak ini pada posisi yang sangat tinggi. Bahkan akhlak mulia sama bahkan lebih tinggi posisinya daripada ibadah, puasa di siang hari dan qiyamullail. Pun ternyata akhlak sangat berhubungan dengan amal ibadah yang kita lakukan. Dimana akhlak yang tidak baik yang membuat orang lain tersakiti akan membuat amal seseorang tersebut tidak diterima oleh Allah SWT.

Mari kita lihat dalil-dalil berikut!

أَبِي يَحْيَى مَوْلَى جَعْدَةَ ، قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ ، يَقُولُ : " قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ فُلَانَةَ تُصَلِّي اللَّيْلَ ، وَتَصُومُ النَّهَارَ ، وَفِي لِسَانِهَ شَرٌّ تُؤْذِي جِيرَانَهَا سَلِيطَةٌ ، قَالَ : لَا خَيْرَ فِيهَا ، هِيَ فِي النَّارِ . وَقِيلَ لَهُ : إِنَّ فُلَانَةَ تُصَلِّي الْمَكْتُوبَةَ ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ ، وَتَتَصَدَّقُ ، وَلَيْسَ لَهَا شَيْءٌ غَيْرُهُ ، وَلَا تُؤْذِي أَحَدًا ، قَالَ : هِيَ فِي الْجَنَّةِ " .
(البر والصلة لابن الجوزي)

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه".
(رواه البخاري)


Sunday, 13 September 2020

حمدون بن أحمد بن عمارة القصّار النيسابوري

 حمدون بن أحمد بن عمارة القصّار النيسابوري

أبو صالح حمدون بن أحمد بن عمارة القصّار النيسابوري، أحد علماء أهل السنة والجماعة ومن أعلام التصوف السني في القرن الثالث الهجري، مؤسس الطريقة الملامتية الصوفية، وصفه الذهبي بأنه "شيخ الصوفية". كان عالماً فقيهاً على مذهب سفيان الثوري. توفي سنة 271 هـ في نيسابور ودفن في مقبرة الحيرة.

 

شيوخه وتلاميذه

سمع من محمد بن بكار بن الريان، وابن راهويه، وأبا معمر الهذلي. وصحب أبا تراب النخشبي وأبا حفص النيسابوري. روى عنه ابنه الحافظ أبو حامد الأعمشي ومكي بن عبدان، وأبو جعفر بن حمدان، وآخرون.

 

من أقواله

استعانة المخلوق بالمخلوق كاستعانة المسجون بالمسجون

لا يجزع من المصيبة، إلا من اتهم ربه

من رايت فيه خصلة من الخير فلا تفارقه فإنه يصيبك من بركاته

قيل لحمدون بن أحمد: "ما بال كلام السلف أنفع من كلامنا، قال: لأنهم تكلموا لعز الإسلام، ونجاة النفوس، ورضا الرحمن، ونحن نتكلم لعز النفوس، وطلب الدنيا، ورضا الخلق

 

Monday, 20 July 2020

Kedudukan Wanita Sebelum Datangnya Islam


Islam merupakan agama yang sempurna, setiap aturan dalam islam tidak lain untuk memuliakan pemeluknya. Islam merupakan agama yang tidak ada kecacatan didalamnya. Kesempurnaannya membuat decak kagum bagi orang yang sudah memahaminya. Islam hadir ditengah-tengah kejahiliyahan dan merubah kejahiliyahan tersebut kepada cahaya kemuliaan.

Wanita merupakan makhluk Allah yang diciptakan dengan berbagai keindahan. sebelum hadirnya Islam wanita dipandang begitu hina. Inilah kedudukan perempuan diberbagai belahan bumi sebelum datangnya Islam.

Wanita dalam pandangan orang-orang Yunani

Sebelum datangnya Islam, Yunani memandang wanita begitu hina. Wanita tidak memiliki status serta kedudukan yang mulia ditengah-tengah masyarakat. Bahkan ada keyakinan bahwa wanita merupakan penyebab segala penderitaan dan musibah yang menimpa manusia. Dan wanita merupakan makhluk yang paling rendah derajatnya. Wanita yang paling derajatnya pada masa ini adalah seorang pelacur. Sehingga pelacur itu sebagai kiblat masyarakat Yunani. Bahkan kisah mereka diangkat dalam dongeng.

Wanita dalam pandangan orang-orang Romawi

Romawi sebelum datangnya islam menganggap bahwa wanita hanya ajang pemuas nafsu laki-laki saja. Bahkan slogan mereka “Mengikat mereka tanpa melepaskannya…” laki-laki memiliki hak penuh atas keluarganya sebagimana hak raja atas rakyatnya. Dia berhak mengatur istri dan anak perempuannya sesuai dengan selera nafsunya.

Wanita dalam pandangan penduduk Persia

Sebelum datangnya Islam, di Negri Persia wanita dilarang menikah dengan laki-laki yang tidak memiliki baju besi yang bermacam-macam. Sedangkan laki-laki memiliki kebebasan dalam memperturutkan hawa nafsunya, dia adalah raja hanya karena semata-mata seorang laki-laki.
Bahkan tatkala haid wanita diusir dari tempatnya ketempat jauh, dan tidak boleh ada yang mengunjunginya kecuali pembantu yang mengantarkan makanan.

Wanita di negri Cina

Sebelum Islam hadir, seorang ayah tidak memberikan warisan kepada anak perempuannya. Tidak boleh bagi wanita menuntut atau meminta harta ayahnya sedikitpun selagi dia bukan seorang anak laki-laki. Mereka menganggap wanita sebagai racun yang merusak kebahagiaan dan harta.

Wanita di Negri India

Di Negri India wanita dianggap sebagai sumber kesalahan dan penyebab kemunduran akhlak maupun mental. Sehingga wanita diharamkan dalam hak-hak pemerintahan dan warisan. Bahkan mereka tidak memiliki hak hidup setelah suaminya wafat, sehingga dia harus mati di hari kematian suaminyadan dibakar hidup-hidup bersama suaminya dalam satu tempat pembakaran.

Wanita dalam Pandangan Yahudi

Ada pun wanita menurut orang-orang Yahudi bahwa wanita adalah makhluk terendah dan hina. Wanita ibarat barang tak berharga yang dapat dibeli di pasar-pasar. Mereka menganggap bahwa bagi laki-laki, wanita adalah satu pintu dari pintu jahannam karena wanitalah yang dituduh menggerakan dan membawa mereka pada dosa. Dari wanitalah terpancar mata air musibah yang menimpa manusia seluruhnya. Mereka berkeyakinan bahwa wanita adalah laknat karena telah menggoda Adam.

Wanita dalam pandangan orang-orang Nasrani

Mereka menggambarkan wanita sebagi biang dari kemaksiatan, akar dari kejahatan dan dosa. Wanita adalah salah satu ppintu-pintu jahnnam bagi laki-laki, karena mereka telah mendorong dan membawa laki-laki unttuk berbuat dosa. Seorang pemuka Nasrani yang bernama Tirtolian berkata “Wanita adalah pintu syetan kedalam jiwa manusia, wanita pulalah yang mendorong seseorang mendekati pohon yang dilarang, melanggar aturan Tuhan dan suka menggoda laki-laki.

Wanita dalam pandangan Bangsa Arab Jahiliya

Bangsa Arab Jahiliyah menganggap wanita begitu hina, bahkan kelahiran anak perempuan dianggap aib yang begitu memalukan, sehingga pada masa itu apabila lahir anak perempuan, maka mereka akan membunuhnya dengan mengubur hidup-hidup. 

Sumber: Mereka Adalah Para Shahabiyat/At-Tibyan
sumber link : https://www.islampos.com/ini-kedudukan-wanita-sebelum-datangnya-islam-46172/

 


Saturday, 28 September 2019

SIFAT-SIFAT IBAD ARRAHMAN (Hamba-Hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) -Tafsir Surat Alfurqan Ayat 63 – 77


وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
63.  Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
#Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih yang shalih berjalan di muka bumi dengan tenang dan penuh kerendahan hati. Apabila orang-orang jahil lagi bodoh menyapa mereka dengan melancarkan gangguan, mereka menjawab orang-orang itu dengan ucapan yang baik-baik, dan membalas omongan mereka dengan ucapan-ucapan yang di dalamnya tidak terkandung unsur dosa dan tidak merespon orang jahil dengan tindakan jahilnya.
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
64.  Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.
#Dan juga orang-orang yang banyak mengerjakan shalat malam dengan ikhlas kepada Tuhan mereka di dalamnya dan merendahkan diri kepadaNya dengan sujud dan berdiri.
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا
65.  Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”.
إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا
66.  Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.
#65-66. Dan juga orang-orang yang meskipun sudah bersungguh-sungguh dalam ibadah, mereka takut kepada Allah, lalu memohon kepadaNya agar menyelamatkan mereka dari siksaan Jahanam. Sesungguhnya siksaannya itu akan mengitari orang yang berhak mendapatkannya. Dan sesungguhnya Jahanam itu adalah seburuk-buruk tempat menetap dan tempat tinggal.
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
67.  Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.
#Dan juga orang-orang yang jika menginfakan sebagian dari kekayaan mereka, mereka tidak melampaui batas dalam memberi dan tidak kurang dalam infak itu. Infak mereka ditengah-tengah antara pemborosan dan kikir. و
الَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
68.  Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),
 يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا
69.  (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,
إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
70.  kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا
71.  Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.
#68-71. Dan juga orang-orang yang mengesakan Allah, dan tidak menyeru dan tidak menyembah sesembahan selainNya, dan mereka tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang membolehkan jiwa dibunuh, seperti kafir setelah beriman, atau berzina setelah menikah, atau membunuh jiwa secara zhalim. Dan mereka juga tidak berzina, dan bisa menjaga kemaluan mereka kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak perempuan yang mereka miliki. Barangsiapa melakukan sebagian dari dosa-dosa besar ini, niscaya akan menjumpai siksaan di akhirat kelak, siksaan dilipat gandakan baginya di akhirat, dan ia akan kekal di dalamnya dalam keadaan hina lagi rendah. (Ancaman kekal ini adalah bagi orang yang melakukan semuanya, atau bagi orang yang melakukan kesyirikan kepada Allah). Akan tetapi, orang yang bertaubat dari dosa-dosa tersebut dengan taubat nasuha (yang sesungguhnya), beriman dengan keimanan yang teguh lagi disertai dengan amal shalih, maka orang-orang itulah yang Allah akan menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan menggantikannya dengan kebaikan-kebaikan, lantaran taubat dan penyesalan mereka. Dan Allah itu Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, Maha Pemurah terhadap hamba-hambaNya, karena Allah menyeru mereka untuk bertaubat setelah menentangnya dengan maksiat yang paling besar. Dan barangsiapa bertaubat dari dosa-dosa yang telah diperbuatnya dan beramal shalih, sesungguhnya dengan itu, ia telah kembali kepada Allah dengan cara yang benar, maka Allah menerima taubatnya dan mengugurkan dosa-dosanya.
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
72.  Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.
#Dan juga orang-orang yang tidak memberikan persaksian dusta dan tidak menghadiri tempat-tempatnya, dan mereka apabila dengan tidak sengaja melewati orang-orang yang hanyut dalam kebatilan dan permainan, orang-orang itu melintasi mereka dengan berpaling dan mengingkari, dengan menjaga kehormatan diri dan tidak menyukai itu terjadi pada selain mereka.
وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا
73.  Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.
#Dan juga orang-orang yang apabila mereka diberi nasihat dengan ayat-ayat al-Qur’an dan bukti-bukti keesaan Allah, mereka tidak melalaikannya layaknya orang tuli yang tidak dapat mendengarnya dan orang buta yang tidak melihatnya. Bahkan sebaliknya, hati mereka memahaminya dengan jeli dan mata hati mereka terbuka untuknya, kemudian mereka menyungkur kepada Allah dengan bersujud lagi taat
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
74.  Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
#Dan juga orang-orang yang memohon kepada Allah dengan mengatakan, “wahai Tuhan Kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan anak-anak kami apa yang dapat menyejukkan pandangan mata kami yang disitu kami memperoleh kenyamanan hidup dan kebahagiaan, dan jadikanlah kami teladan baik yang diikuti oleh orang-orang yang bertakwa dalam kebaikan.”
أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا
75.  Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,
خَالِدِينَ فِيهَا ۚ حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا
76.  mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.
#75-76. Orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang telah dikemukakan dari kalangan hamba-hamba ar-Rahman itu, mereka akan dibalas dengan balasan tempat tinggal tertinggi di surga, dengan rahmat Allah dan dikarenakan kesabaran mereka untuk taat. Dan mereka akan disambut di surga dengan penghormatan dan ucapan salam dari malaikat dan (menjumpai) kehidupan yang baik dan keselamatan dari berbagai gangguan, mereka kekal abadi di dalamnya tanpa ada kematian. Itu adalah sebaik-baik tempat menetap yang mereka diami dan tempat tinggal yang mereka huni. Mereka tidak mengharapkan pindah dari sana.
قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ ۖ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا
77.  Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh telah mendustakan-Nya? karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)”.
#Allah mengabarkan bahwa sesungguhnya Dia tidak peduli dan tidak mengindahkan manusia, kalau bukan karena doa mereka kepadaNya, baik doa ibadah maupun doa permohonan. Dan sungguh kalian (wahai orang-orang kafir) sikap mendustakan yang kalian lakukan akan berakibat pada siksaan yang mengikat kalian seperti orang-orang yang memiliki piutang kepada seseorang, dan akan membinasakan kalian di dunia dan akhirat.
Kesimpulan
- Jadi sifat-sifat Ibad Arrahman berdasarkan rangkaian ayat-ayat di atas ada 12 sifat:
Sifat Pertama : Tawadhu’, rendah hati, tenang, khusyu’
 Sifat Kedua : Membalas Kejelekan dengan Kebaikan
Sifat Ketiga : Senantiasa Tahajjud di Keheningan Malam
Sifat Keempat: Ketakutan Mereka dari Adzab Neraka Jahannam
Sifat Kelima: Tidak Berlebihan dalam Membelanjakan Harta
Sifat Keenam: Tidak Beribadah kepada ilah yang lain beserta Allah
Sifat Ketujuh: Tidak Membunuh
Sifat Kedelapan: Tidak Berzina
Sifat Kesembilan: Tidak Bersumpah Palsu
Sifat Kesepuluh: Tidak melakukan perbuatan yang tidak berguna
Sifat Kesebelas: Ketenangan di dalam Keluarga dan Keturunan yang Shaleh
Sifat Kedua belas: Menuntut ilmu dan Mengharapkan Taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala


-Balasan bagi yang memiliki sifat-sifat tersebut adalah syurga dengan segala kenikmatan di dalamnya. Itulah kenikmatan yang indah dan nikmat, kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada tara. Mereka kekal di dalamnya.

sumber: www.tafsirweb.com